Misteri Kampus IPB, Mesin ATM Rektorat

Halo gaess, selamat malam. Maaf nih malam-malam begini penulis membagikan kisah yang tidak biasa ini. Kami dari Alumnus IPB 97 Kr34tif sengaja mengatakan kisah ini sebagai "tidak biasa" dan bukan kisah misteri (walaupun di judulnya "Misteri Kampus IPB", bikin blunder, tapi yang jelas penulisnya nggak sedang mabok kok. Tetap sadar dan waras) karena bisa jadi bagi beberapa orang, ada yang memang merasa seperti bukan misteri. Maka bisa jadi.. Bisa jadi, mereka yang menganggap kisah seperti ini rasanya bukan misteri, kemungkinan mereka sedang mengalami hal misterius.


Ini bukan menakut-nakuti ya. Tapi memang sudah ada yang menelitinya dari Minnesota, Amerika Serikat, yaitu Melodie Beatty, seorang penulis buku "Today's Daily Meditation" yang dia sendiri mengatakan, "Bisa saja, selama ini ternyata saya sedang berjalan dalam dimensi misterius di dalam kehidupan saya. Bahkan mungkin, seperti ada empat dimensi yang saya jalani dalam hidup ini. Di saat tertentu, saya merasa hidup saya seperti yang diceritakan Bill Wilson, dalam Big Book of Alcoholics Anonymous. Tapi di saat yang lain, hidup saya mirip kisah di buku Margery Williams berjudul The Velveteen Rabbit. Dan juga saya merasakan hidup saya seperti burung yang dikisahkan Richard Bach dalam Jonathan Livingston Seagull."


Jadi kemungkinan, bagi Anda yang telah membaca artikel-artikel bertema misterius ini sejak dari awal (baca artikel perdananya, cukup klik ini : AWAL) dan ternyata tidak merasakan bahwa cerita ini misterius, atau hanya menganggap ini hanyalah cerita yang tak biasa, bisa jadi Anda sedang menjalani hidup seperti Melodie Beatty itu. Hingga kini belum ada kesimpulan dari kisah hidupnya yang selalu berjalan di ranah misterius tersebut. Ya, Melodie Beatty masih terus mengalaminya hingga sekarang dan masih mencari cara bagaimana menyelesaikan masalahnya itu.


Tapi okelah, anggap saja pembaca setia artikel ini adalah orang-orang yang 'normal' dan bukan golongan Beatty yang hanya sepersekian dari miliaran orang di muka bumi ini. Dan kisah kali ini adalah tentang cerita ATM di area Gedung Rektorat, kampus IPB University, Darmaga. Kisah ini kami paparkan karena disinggung oleh salah satu teman kami, bukan dari anak Kr34tif (tapi bukan berarti dia nggak kreatif ya) melainkan dari Alumnus IPB 98 atau entah apa nama angkatan mereka. Perlu disebut namanya? Oh ternyata sudah pada tahu, karena orang inilah yang berkomentar saat artikel ini di share di Facebook.


Ya, namanya adalah Kenidas Lukman Taufik dari C-MSP 35. Dia menyinggung tentang ATM Gedung Rektorat, yang mungkin para pembaca setia IPB97.com khususnya yang jumlah angkatannya 32 sampai 35 sudah sering mendengar kisah ini. Jadi awalnya, ada mahasiswa dari (kalau tidak salah) Fahutan, entah angkatan berapa. Ada yang bilang angkatan 31 atau 32. Barangkali bila yang bersangkutan ada dan membaca artikel ini, bolehlah kita reunian di ATM tersebut (OMG, situ masih mau mengingat nggak). 


Langsung saja, jadi sore itu, lagi-lagi menjelang waktu bedug azan magrib, si anak Fahutan ini sedang sumringah. Pasalnya, uang kiriman orang tuanya baru dia terima, setelah mendapat kabar dari si ortu via telfon. Dia pun mengajak kawannya, entah dari fakultas apa, yang pasti tujuan si anak Fahutan ini mengajak kawan itu adalah supaya ada yang mengantar ke rektorat, khususnya ke mesin ATM. Ini lantaran kawan si Rimbamas (kita sebut saja Mas Fahutan ini sebagai Rimbamas alias Mas Rimbawan) mempunyai sepeda motor. Jadi daripada bayar ojek, menurut Rimbamas, mending nelaktir kawan.


Si kawan ini tidak menolak mengantar Rimbamas ke ATM, namun dia meminta agar lebih baik salat magrib dulu supaya tenang. Namun kata Rimbamas, "Sebentar aja kok, nggak sampai 5 menit lah."  Kebetulan mereka berdua kost di salah satu rumah kost di Badoneng. Akhirnya berangkatlah mereka berdua, di saat adzan berkumandang. Tak sampai 5 menit memang, mereka sudah tiba di Gedung Rektorat dan si kawan itu mengambil lokasi menunggu, di parkir di pinggir gedung limas rektorat yang dekat dengan tempat parkir (lihat gambar). 



Sementara ATM tujuan, lokasinya tak jauh, bahkan sangat dekat dengan tempat menunggu si kawan, yaitu di wing belakang Gedung Rektorat seperti di gambar. Jadilah si kawan sepakat menunggu bersama motornya di area itu dan si Rimbamas mengambil uang di ATM. Karena merasa lokasi menunggunya dekat dengan ATM (mungkin jaraknya tak sampai 30 meter dari tempatnya bertengger bersama motornya) maka si kawan itu berpikir, bahwa dirinya bisa hanya dengan sedikit berteriak memanggil Rimbamas, bila merasa terlalu lama menunggu. 


Dan benar saja, kok terasa lama? Hari semakin gelap, padahal ketika berangkat, masih ada terang matahari yang cahayanya menjelang redup ditelan bumi. Kini hari sudah benar-benar gelap. Mungkin sudah 15 menit dia menunggu. Anggap saja waktu magrib saat itu pukul 18.00 tepat ketika dia melaju dari kost ke Gedung Rektorat. Sampai lokasi, sekitar pukul 18.05 dan setelah lama menunggu, mungkin saat itu sudah pukul 18.20 yang tak lama lagi (sekitar pukul 19.10) waktunya adzan isya. 


Si kawan ini pun tak sabar dan berteriak, "Woi! Rimbamas! Lama banget? Belum salat magrib nih!" Tapi, sudah hampir semenit dia memanggil, kok tak ada respon. "Woi! Lama banget sih ya?!" teriaknya yang kedua kali. Masih tak ada tanggapan juga. Dia melihat jam tangannya sudah mendekati 18.28 WIB. Dia pun turun dari motornya dan bergegas menuju ke ATM. Tapi alangkah kagetnya dia lantaran mendapati si Rimbamas ternyata sedang terlentang pingsan di hadapan ATM. 


Bukan malah menolongnya, dia justru lari ketakutan tunggang langgang menuju motornya. Dia langsung tancap gas. Baru sekitar 50 meter berjalan, dia bertemu dengan beberapa orang mahasiswa dari arah tikungan Gedung Rektorat bagian depan. Dia perhatikan, kesemua mahasiswa itu kepalanya plontos dan wajahnya masih imut-imut seperti siswa SMA. Mereka mungkin para mahasiswa TPB yang baru saja selesai kuliah. 


"Mas! Mas! Tolongin.. Itu.. Itu.. Teman saya pingsan di ATM!" ujarnya terbata-bata.

"Dimana toh Mas?" tanya salah satu dari mereka dengan logat kental Jawa dan berwajah tenang.

"Itu, di ATM."

"Oh baiklah, kita kesana." 

"Oke, saya duluan ya ke ATM, saya bawa motor ini soalnya."

"Monggo."


Dia pun kembali memutar motor ke arah yang tadi dia menunggu. Dia bergegas turun dari motor dan menengok ke belakang, dengan harapan para mahasiswa plontos tadi sudah mendekat. Namun rupanya, dia tidak mendapat siapa-siapa di sana. Dia sedikit melangkah menjauh dari motornya, untuk memastikan dimana para mahasiswa TPB itu. "Astaghfirullah! Apa lagi ini?" ungkapnya dalam hati dengan jantung berdegup keras. Tiba-tiba dari arah belakangnya terdengar suara seperti orang yang menduduki jok motor, ada bunyi seperti shock breaker tertindih beban berat. 


Si kawan ini pun terperanjat atas apa yang dia lihat, rupanya di motornya sudah duduk Rimbamas di bagian paling depan. Dan di belakangnya, duduk para mahasiswa plontos itu, dengan formasi saling bertunggangan ke atas. Mungkin visualisasinya seperti orang-orang yang tindih menindih. Yang satu menduduki bahu temannya yang paling bawah, lalu satu lagi di atasnya, dan yang lain di atasnya, terus begitu sampai tinggi menjulang. Wajah mereka tersenyum aneh, karena bibir mereka jadi sangat lebar hingga nyaris menyentuh telinga.


Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali bergidik, berdiri semua rambut kecil di tubuhnya terutama bagian tengkuk, dan jantung berdegup kencang hingga membuat pandangannya nanar. Tak lama, dia pun pingsan. Si kawan tersebut kemudian terbangun setelah dibangunkan oleh dua orang satpam kampus dan beberapa mahasiswa yang kebetulan sedang berada di situ. Tampak dari kesemua orang yang di situ, ada Rimbamas yang menopang tengkuk si kawan yang pingsan tersebut. Tiba-tiba, saat  si kawan ini terkejut luar biasa dan muncul energi untuk berdiri dengan sangat cepat.


"Siapa kalian? Siapa!" tegas kawan Rimbamas itu

"Lho, hei! Kenapa kamu?" tanya Rimbamas bingung.

"Siapa kalian? Saya tidak takut dengan kalian ya bila kalian ingin menganggu hidup saya!"

"Eh kenapa sih?" 

"Ah! Persetan kalian semua, memang setan!"


Dan karena kelakuan si temannya itu dianggap menyebalkan, salah satu satpam pun membentak, "Hei sadar kamu! Sadar! Atau mau saya pukul kamu!" Dan usai mendengar ancaman itu, barulah si kawan itu sadar dan yakin bahwa kesemua orang di situ ternyata memang nyata, bukan kawanan mahluk yang tak jelas, yang mengganggunya tadi. Akhirnya dia pun lunglai kembali dan berlutut sambil mengatur nafas.


Singkat cerita, ternyata apa yang dialami Rimbamas saat mengambil ATM pun cukup misterius juga. Dari sisi Rimbamas, ketika keduanya sepakat berpisah, yakni si kawan itu menunggu di motor dan Rimbamas ke ATM, peristiwa selanjutnya adalah, tak lama berselang (baru saja berdiri mengantri ATM) Rimbamas melihat kawannya itu tiba-tiba datang dan ingin menghampirinya. Namun mendadak si kawan ini seperti freezing, terpaku menatap Rimbamas. Dia pun menunjukkan telunjuknya ke Rimbamas sambil berkata, "A.. Aa.. Awas itu! Se..Setaaan!"


Dan si kawan itu pun lari secepatnya balik lagi ke motornya. Sedangkan Rimbamas terheran dan tertawa kecil, bersama dengan para pengantri ATM lainnya yang sama-sama tertawa melihat kelakuan temannya itu. Situasinya saat itu, Rimbamas harus mengantri di urutan ke empat, karena di depannya masih ada tiga orang yang sedang mengantri ke mesin ATM, di waktu magrib tersebut. Sebelum kawannya itu datang dan berlaku aneh tadi, di belakang Rimbamas datang lagi dua orang pengantri. Sehingga jumlah antrian menjadi 6 orang.


Tak lama berselang, hanya beberapa menit, terjadilah adegan si kawan itu teriak "Se.. Setaaan!" yang membuat Rimbawan tertawa kecil bersama dengan para pengantri ATM tadi. Namun ada yang aneh dari tertawa yang dia dengar dari para pengantri itu. "Kok ketawanya kayak anak ayam ya?" ungkap Rimbamas dalam hati. Dia pun mencoba menoleh ke belakang, karena merasa ada sosok pengantri yang berdiri di belakangnya, dan terasa sosok itu tidak jauh berdiri darinya. Saat dia menoleh, ternyata tidak ada siapa-siapa. Rimbamas bingung. Dia heran dan semakin heran ketika di depannya pun tiada orang.


Akhirnya Rimbamas merasa seperti sedang sendiri di situ dengan bulu kuduk berdiri serta berasa kepala cenut-cenut karena merasa ketakutan. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan ATM, tidak jadi ambil uang, lari sebisa mungkin, pergi dari tempat itu, menuju ke motor kawannya. "Berarti benar apa yang dia lihat! Aku ditemani setan!" tukasnya dalam hati. Namun sesampainya di motor, Rimbamas mendapati si kawan tadi malah tergeletak pingsan. Dia pun bergegas menghampiri kawannya itu dan segera meletakkan tengkuk kawannya yang pingsan itu di pahanya, seraya berteriak minta tolong. 


Tak lama datanglah dua orang satpam tadi, dan dua mahasiswa lain yang juga mendengar teriakannya. Begitulah sampai akhirnya si kawan itu tersadar dan langsung berdiri cepat. Para satpam itu, jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya. Pun dengan mahasiswa yang ada disitu. Namun Rimbamas dan kawannya saling berpandang dan seolah sama-sama mengerti. Mereka pun mengaku bahwa hal itu hanyalah kesalahpahaman keduanya saja, dan segera ingin pamit pulang. Tanpa banyak bicara, mereka segera menuju motor, kemudian si kawan langsung menyalakan motor dan tancap gas.


Sampai tempat kost, waktu menunjukkan pukul 18.55 yang artinya sedikit lagi akan datang waktu isya. Mereka pun langsung mengambil air wudhu dan melakukan salat magrib bersama. Mereka salat magrib di waktu yang sangat akhir. Baru masuk rakaat kedua, terdengar azan isya. Maka setelah mereka selesai salat magrib, langsung lanjut ke salat isya. Usai salat mereka sama-sama beristighfar memohon ampun dan perlindungan kepada Allah yang Maha Perkasa. Dan terjadilah percakapan ini.


"Tadi itu, apakah mereka nyata?" tanya Rimbamas.

"Entah. Makanya aku tak mau banyak menanggapi. Merasa ingin segera pulang saja."

"Iya aku pun begitu. Aku kuatir jangan-jangan dua satpam itu dan para mahasiswa itu..."


Gaess, makanya, kalau sudah waktunya salat, mendingan dahulukan salat deh...









Post a Comment

1 Comments

  1. Jangan-jangan yang menulis cerita ini.......???
    he..he..he..he....

    ReplyDelete

Ad Code

Berita
English
Snow
Storytelling
Tokoh
Bahari