Fasilitas Komunikasi Legendaris

Zona NineSeven ingin mengenang kembali apa-apa saja yang pernah tren di era 1990-2000. Dan yang pertama adalah kegiatan komunikasi dengan menggunakan fasilitas komersil untuk publik, yang paling legend di jamannya. Nanti setelah komunikasi, kita bahas selanjutnya transportasi. Tapi nanti setelah artikel ini yaa.


1. Telepon Umum

Foto: Kompas.com

Ini paling kesohor sebagai perangkat telekomunikasi yang termurah di jamannya. Cukup dengan memasukkan koin seharga Rp 50,- atau Rp 100,- dan bahkan sempat sampai di era koin Rp 1.000,- telepon umum ini berjaya. Bahkan sempat juga ada yang mengakali, membolongi koin dan diikatkan dengan benang jahit. Sehingga, katanya, koin bisa ditarik ulur untuk memperpanjang sambungan komunikasi. Telepon umum juga bisa digunakan untuk menerima sambungan, tapi di lokasi-lokasi khusus saja. Keterbatasan telekomunikasi telepon umum ini, selain rentan untuk dipermainkan oleh orang yang tak bertanggungjawab, juga hanya mampu untuk tingkatan sambungan lokal saja. Untuk interlokal atau hubungan keluar kota, telepon umum tidak bisa memenuhinya.


2. Telegram

Foto: Kompas.com

Karena jaman dulu (sekitar tahun 1970-1990) belum banyak masyarakat yang memiliki sambungan telelpon di rumah, maka fasilitas komunikasi ini adalah yang bisa dikatakan tercepat untuk disampaikan. Bahkan dulu, ketika seseorang mendapat kabar, "Ada telegram buat kamu..", bisa jadi kabar buruk atau kabar baik. Seringnya telegram ini digunakan untuk mengabarkan berita duka, karena harus segera diketahui keluarga yang berduka. Soal jasa telegram, jangan tanya, yang pasti lebih mahal berkali-kali lipat dari telepon umum. Karena perhitungannya adalah per kata dikalikan jumlah Rupiah.

 

3. Kartu Telepon (Kartel)

Di tahun ini, 1992-1995, urusan kartel di kalangan masyarakat bukanlah urusan narkoba. Karena kartel yang dimaksud bukan negara yang bermasalah dengan urusan organisasi narkoba. Tapi kartel yang dimaksud adalah sebuah benda tipis, mungkin sekitar 0,3-0,4 milimeter dan ukurannya sekira sebesar kartu ATM. Untuk mendapatkan kartel, kita harus beli dulu, yang harganya rata-rata lima ribu Rupiah. Perangkat pendukungnya pun harus khusus, yaitu telepon umum yang bisa membaca kartu. Jadi, telepon tersebut memiliki semacam mulut untuk si kartel itu bisa masuk. Ya, seperti mulut kartu ATM kira-kira. 


Lalu setelah kartel dimasukkan, di layar telepon akan muncul jumlah uang kita dan pulsa yang ditransfer selama pembicaraan. Pulsa demi pulsa akan menyedot saldo uang kita sehingga uang tersebut habis. Nah, istilah 'beli pulsa' sebenarnya datang dari sini. Jaman dulu kata pulsa seperti menjadi penganti saldo untuk urusan telepon menelepon. Padahal sebenarnya seharusnya yang dibeli bukan pulsanya, tapi saldo. Jadi yang benar itu,
"Bang beli saldo dong..", bukan "Mbak beli pulsa." Dan perlu diketahui juga, kartel ini tidak bisa diisi ulang alias sekali pakai buang.


4. Warung Telepon (Wartel)

Foto: IDN Times


Ini adalah model komunikasi yang muncul nyaris berbarengan dengan era Kartel atau sekitar 1993 hingga 2005. Ini adalah fasilitas telepon umum paling lama berkiprah di Indonesia, setelah telepon umum. Di wartel, kita bisa melakukan sambungan lokal, jarak jauh (interlokal), bahkan sambungan internasional. Tentunya harganya berbeda-beda. Untuk lokal, adalah yang paling murah. Wartel juga merupakan tempat favorit para remaja yang 'mojok' melancarkan rayuan gombalnya ketika sedang PDKT atau yang sedang pacaran. Tak heran, setiap akhir pekan wartel selalu penuh pelanggan.


5. Warung Internet (Warnet)

Foto: Hipwee


Ini adalah fasilitas publik yang serba bisa untuk saat itu. Dengan sambungan internet, seseorang bisa melakukan hubungan jarak jauh, lewat teks (chatting), bisa SMS (short message service), dan bahkan hubungan langsung pembicaraan. Ada mIRC untuk urusan chatting, lalu ada juga Lippostar.com untuk urusan SMS gratis, dan ada AOL Communication untuk bisa nelpon sesama pengguna AOL baik lokal hingga internasional (mungkin kalau sekarang seperti WA Call). Tapi semua tergantung provider watnet itu sendiri. Ada warnet yang koneksinya selow men ada juga yang ngebut. Tentunya yang ngebut, tarif per jam lebih mahal dari yang lambat (tarifnya masih per jam cuy, haha).

Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Berita
English
Snow
Storytelling
Tokoh
Bahari